http://www.facebook.com/events/241544712640927/?context=create
Makna Kebangkitan Kembali Kejayaan Keris Indonesia
Kebangkitan kejayaan ‘keris’ merupakan gerakan kebudayaan.
Pada dekade ini para pemerhati dan pencinta keris telah menghidupkan kembali nilai-nilai kebudayaan yang terkandung dalam keris. Mungkin bisa dianggap sebagai suatu pemahaman humanisme dari pembacaan terhadap keris. Tokoh kebudayaan menyebutnya nilai-nilai ke-utamaan, yang dianggap sebagai basis “jati diri” kebangsaan Indonesia. Nilai humanisme itu bisa merujuk pada nilai klasik, juga bisa memasuki suatu pemahaman modern yang diekspresikan melalui keris ciptaan baru (kontemporer).
Dalam hal ‘pemahaman modern’ memang sempat terhambat oleh gaya berpikir beberapa tokoh sepuh. Tetapi itu pun karena adanya kepentingan-kepentingan untuk menanamkan sesuatu dalam sebuah karya seni keris, beberapa kegiatan yang juga dikemas merupakan kepentingan tertentu dengan judul yang wah...Keris For The World, Mahakarya, Estetika Keris... yang memang diperlukan! Juga sikap meremehkan kepada suatu perkembangan baru pernah menyeruak disuarakan justru oleh tokoh sepuh. Mungkin kita masih ingat sekitar tahun 1996, para pejuang “pembuat keris baru” seperti Hajar Satoto, dilecehkan dengan sebutan “keris-kerisan” untuk karya keris baru yang sekarang dikenal dengan sebutan Keris Kamardikan.
Semua itu adalah sebuah dinamika.
Apabila dibandingkan dengan pemahaman klasik yang lebih menekankan pada suatu aturan yang dianggap baku, pemahaman modern pada keris justru sebagai bagian dari apa yang ditangkap dari alam atau polis (negara-negara kota), sebagai penyesuaian individu-individu dengan modernitas.
Kebudayaan ibarat sungai yang berkelok mengikuti jamannya.
Jika nilai humanisme klasik yang terbaca lewat penghayatan terhadap keris, jauh lebih dikenal karena penekanannya pada filsafat dan mistik. Gagasan atau inspirasi dalam pembacaan terhadap keris yang dibuat pada masa lalu merupakan kerinduan tersendiri yang kadang kala mendorong munculnya sikap pemujaan. Individualisme yang menjadi paham ‘keharusan’ dalam suatu penilaian terhadap keris, menambah pengetahuan yang kompleks dan menjadi susah untuk dimengerti. Tetapi itu pun merupakan eksklusifitas keris.
Hal ini harus diselesaikan dengan kajian-kajian dari sisi pandang pengetahuan sosial modern. Dibutuhkan ‘moral courage’ atau keberanian moral, mengkikis stigmatis klenik melalui ‘penalaran kebudayaan’... saya juga ingin memberikan tanda-tanda itu yakni dengan menerbitkan buku saya yang berjudul “Tafsir Keris”, agar orang bisa mengetahui segala yang ada dibalik keris tanpa ada pendangkalan...
Kebangkitan kejayaan ‘keris’ yang merupakan gerakan kebudayaan, melibatkan individu-individu unik yang bebas untuk berbuat sesuatu dan menganut keyakinannya sendiri. Mengikuti Pico Della Mirandola: ”Kemuliaan manusia terletak dalam kebebasannya untuk menentukan pilihan sendiri dan dalam posisinya sebagai penguasa atas alam”.
Secara sequential.... saya memahami keris Kamardikan telah kembali kepada pemahaman substansial sebagai ungkapan-ungkapan penghayatan hubungan manusia sebagai makhluk Tuhan. Jangan heran jika pada dekade masa kini keris Kamardikan telah mulai melibatkan ritual-ritual.
Sebut saja ini sebagai “renaissance” keris Indonesia.
Info Tambahan. Ada Pameran 60 foto bertema keris dari rekan-rekan CWF juga sahabat-sahabat dari SNKI (sekretariat nasional perkerisan indonesia), serta paguyuban-paguyuban perkerisan di Indonesia. Dalam usaha melestarikan seni Budaya Nusantara, khususnya KERIS. Yang telah diakui dunia melalui UNESCO sebagai Masterpice of Oral and Intangible Heritage of Humanity.